Bukan
Sekedar Usaha
Berbeda dengan
hari biasanya, aku bangun lebih pagi dan merasa lebih bersemangat. Jam 06.00
aku sampai disekolah, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester
1. Ya .. sekarang aku duduk di bangku SMA tepatnya kelas 12. Hal yang
menyenangkan sekaligus mendebarkan karena di kelas 12 inilah aku akan mengakhiri
studi ku di bangku SMA.
Aku
berjalan di lorong sekolahku masih sangat sepi, aku terlalu bersemangat hingga
datang sepagi ini. Sesampainya di kelas aku meletakkan tas ransel ku di bangku
yang telah aku pilih yaitu bangku nomor 2 dari depan dekat jendela. Aku membuka
tirai didekat tempat dudukku, ku lihat pepohonan hijau yang menari-nari tertiup
angin, udara segar seolah berlarian memasuki kelasku dari ventilasi jendela. Suasana
hening dan udara pagi yang segar seolah memberiku semangat untuk beraktivitas
hari ini.
Waktu
sudah menunjukkan jam 07.00 bel pun berbunyi. Siswa-siswi yang tadinya bersundau
gurau mulai diam dan duduk tenang dibangku masing-masing. Kali ini aku duduk
bersama sahabat kecilku yang sempat terpisah karena berbeda kelas, ia bernama
Shevira Santika. Shera begitulah aku memanggilnya. Ia gadis yang sangat luar
biasa.
Tak
terasa hari sudah semakin gelap aku menghabiskan waktuku bersama Shera untuk
menyelesaikan tugas. Jam 16.00 tepatnya aku sudah ditunggu oleh ayahlku di
depan gerbang sekolah, aku tergesa-gesa karena aku tidak mau ayahku menunggu
lama hanya untuk menjemputku. Aku melewati lorong, masih banyak siswa disana
mereka sama seperti aku dan Shera menghabiskan waktu disekolah untuk
menyelesaikan tugas. Ayahku melambaikan tangan padaku aku tersenyum dan bergegas
mendekat. Sesampainya dirumah aku beristirahat. Setelah beristirahat cukup lama aku segera
menyelesaikan tugasku, bahkan sampai aku tidak menyadari bahwa jam didekatku
sudah menunjukkan pukul 23.00. Aku segera bersiap-siap untuk mengistirahatkan
tubuhku.
***
Alarm
di meja membangunkanku tepat pukul 04.30, aku bergegas mempersiapkan diri untuk
beribadah aku menyadari bahwa hanya dengan doa dan usaha yang dapat membawaku
lebih baik dari sekarang apalagi kini aku sudah duduk di kelas 12 bukan lagi
waktu untuk bermain-main. Sekitar pukul 06.00 Ibu mengetuk pintu kamarku
memintaku untuk segera sarapan. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki tidak
berbeda jauh denganku hanya berjarak sekitar 3-4 tahun. Ia bukanlah orang yang
selalu punya waktu untukku tapi setidaknya ia masih sering berkomunikasi
denganku walau tidak secara langsung.
Aku
sampai disekolah lebih siang dari biasanya, bahkan disekolah sudah ramai dengan
siswa-siswi yang lain. Aku berjalan melewati gerbang sekolah.
“Nei ... “
Seperti ada
yang memanggilku. Aku terdiam aku melihat disekitarku tetapi tidak ada yang
menunjukkan bahwa salah satu dari mereka memanggil namaku, aku tidak mengubris
panggilan itu aku segera menuju kelasku. Aku meletakkan tas ranselku dan duduk
dibangku. Kulihat disebelahku belum ada Shera.
“Nei, kamu enggak tahu ya aku
lari dam panggil nama kamu ?”
“Tidak Sher, tidak ada yang
memanggilku”
Belum
sempat Shera melanjutkan bicaranya bel tanda masuk sudah berbunyi. Guru
pengajar memasuki kelas, hari ini kami mendapat materi Matematika. Shera nampak
senang dengan mata pelajaran tersebut namun aku .... TIDAK ! . Aku tidak
menyukai mata pelajaran tersebut. Bahkan berkali-kali aku diberi pelajaran
tambahan khusus mapel tersebut, namun tak ada guna bahkan sia-sia tak ada
hasilnya.
Sepulang
sekolah aku menemui guru pembimbingku beliau mengatakan bahwa nilai Matematikaku
tidak pernah memuaskan bahkan mendapat nilai diatas kkm saja tidak pernah,
beliau juga berkata bahwa nilai matematikaku selama kelas 12 ini mengalami
penurunan jika aku tidak bisa memperbaiki bisa jadi aku tidak akan lulus. Seketika
aku ingin menangis pikiranku buyar aku memikirkan ujian akhirku, apakah aku
tidak akan lulus hanya karena Mata pelajatran Matematika ? Menyedihkan bukan
jika itu benar terjadi ? aku keluar dari ruangan itu aku sudah tidak bisa
menahan air mataku hal yang mudah tetapi sulit bagiku, pipiku sudah dibanjiri
oleh air mata, seperti tak ada guna aku mengikuti pelajaran jika nilai
matematikaku tetap sama. Teman-temanku keheranan melihatku keluar dari ruangan
guru pembimbing dengan mata yang penuh air mata, namun tak ku pedulikan mereka,
ku buang rasa malu ku tetap saja aku kecewa dengan diriku sendiri. Shera
berlari kearahku, ia memelukku erat. Ia selalu mengerti keadaanku, seolah bisa
membaca pikiranku ia berusaha menenangkanku membawaku ke tempat yang dapat
menghentikan tangisku.
Aku
duduk bersamanya ku coba menceritakan semua yang dikatakan guru pembimbing.
Shera hanya tersenyum padaku bahkan ia mengatakan itu bukan suatu masalah.
Bukan suatu masalah ? jelas itu masalah bagaimana jika benar aku tidak lulus
karena nilai matematika ? Shera meyakinkanku bahwa aku bisa memperbaiki nilai
matematika tersebut.
***
3
hari sudah aku mencoba mencoba mencari titik kelemahanku pada mapel matematika
namun sama saja memang sepertinya aku tidak akan lulus hanya karena nilai
matematika. Aku mencoba melupakan itu aku sudah malas aku putus asa. Aku merasa
diriku tidak mampu mendapat nilai matematika yang dapat meluluskanku. Hanya
membuang-buang waktu saja.
Ayah,
Ibu, kakak, teman-temanku bahkan Shera sudah berusaha meyakinkanku bahwa aku
hanya perlu waktu dan niat yang besar untuk menahklukkan mata pelajaran
tersebut. Namun, aku tidak percaya aku keras kepala. Pikiranku sudah tersugesti
bahwa aku tidak akan bisa dan aku tidak mampu memperbaiki nilai matematikaku.
Mereka
tetap berusaha meyakinkanku. Hingga akhirnnya aku luluh dengan segala perkataan
Ibu ku. Aku mau memperbaiki. Aku tidak ingin mengecewakan keluargaku terutama
Ibuku.
Setiap
pulang sekolah aku selalu belajar bersama Shera ia memang sahabat yang baik, bukan
hanya baik tetapi juga pandai. Dengan sabar ia mengajariku ia juga berkata
bahwa tidak hanya usaha yang membuat berhasil tetapi doa dan niat. Aku selalu
mengingat perkataan Shera. Hingga ujian akhir tiba aku merasa yakin dengan
usahaku tak lupa aku berdoa agar Tuhan memudahkan segala nya.
***
Hari
yang ditunggu pun tiba hari dimana aku akan mengetahui apakah segala usahaku
sia-sia atau tidak. Inilah saat yang paling mendebarkan. Jika aku tidak lulus
aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Ibu dan Ayahku. Siswa-siswi yang
lulus akan dipanggil namanya untuk menerima tanda kelulusan.
Satu
per satu temanku telah dipanggil termasuk sahabatku Shevira Santika ya Shera,
ia tersenyum kepadaku seolah memberiku semangat aku membalas senyumnya singkat.
Ibu melihatku dengan menampakkan senyumnya, aku melihat raut wajahnya yang penuh harapan, aku tak
ingin mengecewakan Ibuku. Saat itulah aku mendengar namaku disebutkan “Neira
Sendy” betapa bahagianya aku, aku dengan cepat meraih tubuh ibuku memluknya
erat dan segera menuju kedepan untuk menerima tanda kelulusan. Shera tersenyum
padaku aku mendekatinya dan mengucapkan terimakasih padanya.
Memang
nilai matematikaku tidak sebaik Shera tetapi setidaknya aku dapat membuktikan
bahwa aku mampu. Segala usaha tidak akan sia-sia jika kita mempunyai niat dan
tekat serta tidak melupakan bahwa usaha tidak akan berhasil tanpa doa. Semua
telah aku lewati, kini aku melanjutkan studi ku di salah satu universitas yang
aku inginkan begitupun dengan Shera. Memang bukan hal yang mudah tetapi semua
sudah direncanakan oleh Tuhan tinggal bagaimana kita berusaha dan berdoa.
