Cari Blog Ini

Minggu, 15 Februari 2015

cerita pendek ~

                                                       Bukan Sekedar Usaha

Berbeda dengan hari biasanya, aku bangun lebih pagi dan merasa lebih bersemangat. Jam 06.00 aku sampai disekolah, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester 1. Ya .. sekarang aku duduk di bangku SMA tepatnya kelas 12. Hal yang menyenangkan sekaligus mendebarkan karena di kelas 12 inilah aku akan mengakhiri studi ku di bangku SMA.
                Aku berjalan di lorong sekolahku masih sangat sepi, aku terlalu bersemangat hingga datang sepagi ini. Sesampainya di kelas aku meletakkan tas ransel ku di bangku yang telah aku pilih yaitu bangku nomor 2 dari depan dekat jendela. Aku membuka tirai didekat tempat dudukku, ku lihat pepohonan hijau yang menari-nari tertiup angin, udara segar seolah berlarian memasuki kelasku dari ventilasi jendela. Suasana hening dan udara pagi yang segar seolah memberiku semangat untuk beraktivitas hari ini.
                Waktu sudah menunjukkan jam 07.00 bel pun berbunyi. Siswa-siswi yang tadinya bersundau gurau mulai diam dan duduk tenang dibangku masing-masing. Kali ini aku duduk bersama sahabat kecilku yang sempat terpisah karena berbeda kelas, ia bernama Shevira Santika. Shera begitulah aku memanggilnya. Ia gadis yang sangat luar biasa.
                Tak terasa hari sudah semakin gelap aku menghabiskan waktuku bersama Shera untuk menyelesaikan tugas. Jam 16.00 tepatnya aku sudah ditunggu oleh ayahlku di depan gerbang sekolah, aku tergesa-gesa karena aku tidak mau ayahku menunggu lama hanya untuk menjemputku. Aku melewati lorong, masih banyak siswa disana mereka sama seperti aku dan Shera menghabiskan waktu disekolah untuk menyelesaikan tugas. Ayahku melambaikan tangan padaku aku tersenyum dan bergegas mendekat. Sesampainya dirumah aku beristirahat.  Setelah beristirahat cukup lama aku segera menyelesaikan tugasku, bahkan sampai aku tidak menyadari bahwa jam didekatku sudah menunjukkan pukul 23.00. Aku segera bersiap-siap untuk mengistirahatkan tubuhku.
***
                Alarm di meja membangunkanku tepat pukul 04.30, aku bergegas mempersiapkan diri untuk beribadah aku menyadari bahwa hanya dengan doa dan usaha yang dapat membawaku lebih baik dari sekarang apalagi kini aku sudah duduk di kelas 12 bukan lagi waktu untuk bermain-main. Sekitar pukul 06.00 Ibu mengetuk pintu kamarku memintaku untuk segera sarapan. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki tidak berbeda jauh denganku hanya berjarak sekitar 3-4 tahun. Ia bukanlah orang yang selalu punya waktu untukku tapi setidaknya ia masih sering berkomunikasi denganku walau tidak secara langsung.
                Aku sampai disekolah lebih siang dari biasanya, bahkan disekolah sudah ramai dengan siswa-siswi yang lain. Aku berjalan melewati gerbang sekolah.
“Nei ... “
Seperti ada yang memanggilku. Aku terdiam aku melihat disekitarku tetapi tidak ada yang menunjukkan bahwa salah satu dari mereka memanggil namaku, aku tidak mengubris panggilan itu aku segera menuju kelasku. Aku meletakkan tas ranselku dan duduk dibangku. Kulihat disebelahku belum ada Shera.
“Nei, kamu enggak tahu ya aku lari dam panggil nama kamu ?”
“Tidak Sher, tidak ada yang memanggilku”
                Belum sempat Shera melanjutkan bicaranya bel tanda masuk sudah berbunyi. Guru pengajar memasuki kelas, hari ini kami mendapat materi Matematika. Shera nampak senang dengan mata pelajaran tersebut namun aku .... TIDAK ! . Aku tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Bahkan berkali-kali aku diberi pelajaran tambahan khusus mapel tersebut, namun tak ada guna bahkan sia-sia tak ada hasilnya.
                Sepulang sekolah aku menemui guru pembimbingku beliau mengatakan bahwa nilai Matematikaku tidak pernah memuaskan bahkan mendapat nilai diatas kkm saja tidak pernah, beliau juga berkata bahwa nilai matematikaku selama kelas 12 ini mengalami penurunan jika aku tidak bisa memperbaiki bisa jadi aku tidak akan lulus. Seketika aku ingin menangis pikiranku buyar aku memikirkan ujian akhirku, apakah aku tidak akan lulus hanya karena Mata pelajatran Matematika ? Menyedihkan bukan jika itu benar terjadi ? aku keluar dari ruangan itu aku sudah tidak bisa menahan air mataku hal yang mudah tetapi sulit bagiku, pipiku sudah dibanjiri oleh air mata, seperti tak ada guna aku mengikuti pelajaran jika nilai matematikaku tetap sama. Teman-temanku keheranan melihatku keluar dari ruangan guru pembimbing dengan mata yang penuh air mata, namun tak ku pedulikan mereka, ku buang rasa malu ku tetap saja aku kecewa dengan diriku sendiri. Shera berlari kearahku, ia memelukku erat. Ia selalu mengerti keadaanku, seolah bisa membaca pikiranku ia berusaha menenangkanku membawaku ke tempat yang dapat menghentikan tangisku.
                Aku duduk bersamanya ku coba menceritakan semua yang dikatakan guru pembimbing. Shera hanya tersenyum padaku bahkan ia mengatakan itu bukan suatu masalah. Bukan suatu masalah ? jelas itu masalah bagaimana jika benar aku tidak lulus karena nilai matematika ? Shera meyakinkanku bahwa aku bisa memperbaiki nilai matematika tersebut.
***
                3 hari sudah aku mencoba mencoba mencari titik kelemahanku pada mapel matematika namun sama saja memang sepertinya aku tidak akan lulus hanya karena nilai matematika. Aku mencoba melupakan itu aku sudah malas aku putus asa. Aku merasa diriku tidak mampu mendapat nilai matematika yang dapat meluluskanku. Hanya membuang-buang waktu saja.
                Ayah, Ibu, kakak, teman-temanku bahkan Shera sudah berusaha meyakinkanku bahwa aku hanya perlu waktu dan niat yang besar untuk menahklukkan mata pelajaran tersebut. Namun, aku tidak percaya aku keras kepala. Pikiranku sudah tersugesti bahwa aku tidak akan bisa dan aku tidak mampu memperbaiki nilai matematikaku.
                Mereka tetap berusaha meyakinkanku. Hingga akhirnnya aku luluh dengan segala perkataan Ibu ku. Aku mau memperbaiki. Aku tidak ingin mengecewakan keluargaku terutama Ibuku.
                Setiap pulang sekolah aku selalu belajar bersama Shera ia memang sahabat yang baik, bukan hanya baik tetapi juga pandai. Dengan sabar ia mengajariku ia juga berkata bahwa tidak hanya usaha yang membuat berhasil tetapi doa dan niat. Aku selalu mengingat perkataan Shera. Hingga ujian akhir tiba aku merasa yakin dengan usahaku tak lupa aku berdoa agar Tuhan memudahkan segala nya.
***
                Hari yang ditunggu pun tiba hari dimana aku akan mengetahui apakah segala usahaku sia-sia atau tidak. Inilah saat yang paling mendebarkan. Jika aku tidak lulus aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Ibu dan Ayahku. Siswa-siswi yang lulus akan dipanggil namanya untuk menerima tanda kelulusan.
                Satu per satu temanku telah dipanggil termasuk sahabatku Shevira Santika ya Shera, ia tersenyum kepadaku seolah memberiku semangat aku membalas senyumnya singkat. Ibu melihatku dengan menampakkan senyumnya, aku melihat  raut wajahnya yang penuh harapan, aku tak ingin mengecewakan Ibuku. Saat itulah aku mendengar namaku disebutkan “Neira Sendy” betapa bahagianya aku, aku dengan cepat meraih tubuh ibuku memluknya erat dan segera menuju kedepan untuk menerima tanda kelulusan. Shera tersenyum padaku aku mendekatinya dan mengucapkan terimakasih padanya.

                Memang nilai matematikaku tidak sebaik Shera tetapi setidaknya aku dapat membuktikan bahwa aku mampu. Segala usaha tidak akan sia-sia jika kita mempunyai niat dan tekat serta tidak melupakan bahwa usaha tidak akan berhasil tanpa doa. Semua telah aku lewati, kini aku melanjutkan studi ku di salah satu universitas yang aku inginkan begitupun dengan Shera. Memang bukan hal yang mudah tetapi semua sudah direncanakan oleh Tuhan tinggal bagaimana kita berusaha dan berdoa.